Abu Bakr adalah nama kunyah (panggilan), nama asli beliau adalah Abdulloh bin Utsman
Orang Arab tahu mana nama, mana kunyah ataupun laqab.
Imam Ali asli orang Arab,, pasti beliau tahu itu.
Tidak ada orang memberi nama anaknya dengan nama kunyah atau laqab.
Tapi tahukah kawan???? Ternyata Imam Ali adalah orang Bani Hasyim pertama yang memberi nama anaknya dengan nama ABU BAKR.
Kalau bukan karena mengidolakan Abu Bakr, kecil kemungkinan.
Bagaimana bisa Imam Ali mngidolakan Abu Bakr, tapi orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya (syiahnya) malah menghadiahkan satu doa khusus yang berisi laknat terhadap idola imamnya sendiri... Yaitu doa SHONAMAY QURAISY (Dua berhala Quraisy)
Bingung to..???
Mau jadi syiah, bingung dulu... Udah jadi syiah, tambah bingung... Piye to yaaa...????????????????
Tampilkan postingan dengan label Imam Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Ali. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 Agustus 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Syiah Imamiyyah mengucilkan Imam al-Hasan.
Kebingungan keduapuluh lima...
Kita ketahui Imam al-Hasan -semoga Alloh meridhainya- adalah putra Imam Ali, ibu beliau adalah Fathimah az-Zahra -semoga Alloh meridhai mereka-. Imam al-Hasan juga termasuk Ahlul Kisa sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, beliau juga termasuk Imam yang ma'shum. Keadaannya sama seperti keadaan saudaranya (al-Husain yang lebih muda satu tahun -semoga Alloh meridhainya-).
Tetapi mengapa, imamah terputus dari keturunan al-Hasan???
Akan tetapi keturunan al-Husain yang melanjutkan keimamahan???
Padahal kedua orangtuanya sama, keduanya adalah sayyid (pemimpin pemuda ahlul jannah), bahkan al-Hasan lebih utama, karena dilahirkan lebih dahulu dari al-Husain.
Mengapa???
Bingung...???
Lihat juga ini
Kita ketahui Imam al-Hasan -semoga Alloh meridhainya- adalah putra Imam Ali, ibu beliau adalah Fathimah az-Zahra -semoga Alloh meridhai mereka-. Imam al-Hasan juga termasuk Ahlul Kisa sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, beliau juga termasuk Imam yang ma'shum. Keadaannya sama seperti keadaan saudaranya (al-Husain yang lebih muda satu tahun -semoga Alloh meridhainya-).
Tetapi mengapa, imamah terputus dari keturunan al-Hasan???
Akan tetapi keturunan al-Husain yang melanjutkan keimamahan???
Padahal kedua orangtuanya sama, keduanya adalah sayyid (pemimpin pemuda ahlul jannah), bahkan al-Hasan lebih utama, karena dilahirkan lebih dahulu dari al-Husain.
Mengapa???
Bingung...???
Lihat juga ini
Senin, 03 Januari 2011
Imam al-Hasan yang ma'shum membantu orang kafir???
Kebingungan keduapuluh empat...
Syiah Imamiyyah meyakini Muawiyah -semoga Alloh meridhainya- telah kafir.
Kemudian kita tahu bahwa al-Hasan (Imam Ma'shum kedua setelah Imam Ali) menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah, hal ini tentu saja menyelisihi kema'shuman beliau.
Jadi, Imam al-Hasan tidak ma'shum atau Muawiyah seorang muslim yag diridhoi oleh Imam al-Hasan???
Bingung ????
Syiah Imamiyyah meyakini Muawiyah -semoga Alloh meridhainya- telah kafir.
Kemudian kita tahu bahwa al-Hasan (Imam Ma'shum kedua setelah Imam Ali) menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah, hal ini tentu saja menyelisihi kema'shuman beliau.
Jadi, Imam al-Hasan tidak ma'shum atau Muawiyah seorang muslim yag diridhoi oleh Imam al-Hasan???
Bingung ????
Minggu, 02 Januari 2011
Syiah Imamiyyah menuduh Imam Ali mengkhianati ummat???
Kebingungan keduapuluh dua...
Ketika Imam Ali menjadi khalifah, mengapa beliau tidak menyelisihi para khulafaur rasyidin sebelum beliau??
Beliau tidak mengingkari salah satu dari mereka. Bahkan beliau menyatakan dengan tegas diatas mimbar Kufah,: "Orang terbaik dari ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakr dan Umar."
Beliau tidak mengeluarkan untuk manusia Al-Qur'an (mush-haf Fathimah).
Beliau tidak mensyariatkan mut'ah.
Beliau tidak mengembalikan tanah Fadak kepada ahli warits Fathimah.
Beliau tidak mewajibkan haji tamattu'
Beliau tidak mengumumkan tambahan lafadz: Hayya 'Ala Khairil 'Amal pada adzan.
Beliau tidak menghapus lafadz: Ash-Sholaatu Khoirun Minan Naum.
Jika Abu Bakr dan Umar -semoga Alloh meridhai keduanya- kafir, dan telah merampas kekhilafahan darinya -sebagaimana yang mereka yakini- mengapa Imam Ali tidak menjelaskannya??? Padahal beliau saat itu memiliki kekuasaan.
Akan tetapi yang kita temukan sebaliknya, beliau memuji keduanya.
Maka hendaknya kita dan juga Syiah Imamiyyah merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Kalau ga begitu, sama saja menuduh Imam Ali berkhianat kepada ummat, karena tidak menjelaskan perkara yang sebenarnya. Ga mungkin lah Imam Ali berkhianat...!!!
Bingung ???
Ketika Imam Ali menjadi khalifah, mengapa beliau tidak menyelisihi para khulafaur rasyidin sebelum beliau??
Beliau tidak mengingkari salah satu dari mereka. Bahkan beliau menyatakan dengan tegas diatas mimbar Kufah,: "Orang terbaik dari ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakr dan Umar."
Beliau tidak mengeluarkan untuk manusia Al-Qur'an (mush-haf Fathimah).
Beliau tidak mensyariatkan mut'ah.
Beliau tidak mengembalikan tanah Fadak kepada ahli warits Fathimah.
Beliau tidak mewajibkan haji tamattu'
Beliau tidak mengumumkan tambahan lafadz: Hayya 'Ala Khairil 'Amal pada adzan.
Beliau tidak menghapus lafadz: Ash-Sholaatu Khoirun Minan Naum.
Jika Abu Bakr dan Umar -semoga Alloh meridhai keduanya- kafir, dan telah merampas kekhilafahan darinya -sebagaimana yang mereka yakini- mengapa Imam Ali tidak menjelaskannya??? Padahal beliau saat itu memiliki kekuasaan.
Akan tetapi yang kita temukan sebaliknya, beliau memuji keduanya.
Maka hendaknya kita dan juga Syiah Imamiyyah merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Kalau ga begitu, sama saja menuduh Imam Ali berkhianat kepada ummat, karena tidak menjelaskan perkara yang sebenarnya. Ga mungkin lah Imam Ali berkhianat...!!!
Bingung ???
Syiah Imamiyyah menempatkan Imamnya pada posisi yang sulit!!
Kebingungan keduapuluh satu...
Jika Imam Ali bin Abi Thalib -semoga Alloh meridhainya- mengetahui bahwa ia dijadikan Imam ataupun Khalifah oleh Alloh ta'ala, mengapa dia malah berbaiat kepada Abu Bakr, kemudian Umar, lalu Utsman?? -semoga Alloh meridhai mereka-
Jika Syiah Imamiyyah beralasan: "Pada saat itu Imam Ali lemah"
Jawab: "Ah yang bener?? Orang lemahkan tidak pantas jadi imam, imam hanya untuk orang yang mampu menanggung bebannya!"
Jika Syiah Imamiyyah berkata: "Imam Ali mampu tapi tidak melakukannya."
Jawab: "Ga mungkin deh, itukan sama saja khiyanat, pengkhianat tidak pantas jadi Imam!!"
Kalau gitu kenapa dong Imam Ali kok ga berbuat sesuatu sih???
Apalagi kalau Syiah Imamiyyah mengatakan kalau Imam Ali bertaqiyyah, ga mungkin banget deh... dalam masalah yang telah Alloh tetapkan untuknya kok malah bertaqiyyah (menyembunyikan hakekat, menampakkan sebaliknya)???
Kalau gitu kesimpulannya???
Bingung lagi???
Jumat, 31 Desember 2010
Ghadir Khum???
Kebingungan kesembilan belas...
Kisah Ghadir Khum memang terjadi, yang intinya adalah mengingatkan kepada ummat ini agar mencintai Ali bin Abi Thalib dan melindunginya.
Akan tetapi Syiah Imamiyyah memahaminya dengan pemahaman yang jauh berbeda, mereka menyatakan bahwa kisah Ghadir Khum adalah washiyat Nabi kepada ribuan shahabatnya (yang bersama beliau pulang dari haji wada' kemudian berhenti di daerah yang namanya Ghadir Khum) untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wali/imam pengganti setelah Rasululloh wafat.
Ada kejanggalan, apabila memang terjadi sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menuntut kepada Abu Bakr? Begitu juga ribuan orang yang menghadiri Ghadir Khum tidak ada yang marah atau mengingatkan kepada Abu Bakr.
Bahkan sebagian shahabat yang tidak dikafirkan Syiah Imamiyyah juga tidak menuntut, seperti Ammar bin Yaasir atau al-Miqdaad bin 'Amr atau Salman al-Faarisi -semoga Alloh meridhai mereka-
Apakah karena mereka takut kepada Abu Bakr??? padahal Abu bakr berasal dari Bani Taim, kabilah yang lemah dan sedikit jumlahnya.
Ataukah karena memang kejadian Ghadir Khum tidak sebagaimana yang dipahami Syiah Imamiyyah???
Bukankah Imam Ali bin Abi Thalib orang yang kuat, pemberani, berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang terhormat lagi kuat????
Lihat foto ghadir khum di sini
Bingung bosss???
Kisah Ghadir Khum memang terjadi, yang intinya adalah mengingatkan kepada ummat ini agar mencintai Ali bin Abi Thalib dan melindunginya.
Akan tetapi Syiah Imamiyyah memahaminya dengan pemahaman yang jauh berbeda, mereka menyatakan bahwa kisah Ghadir Khum adalah washiyat Nabi kepada ribuan shahabatnya (yang bersama beliau pulang dari haji wada' kemudian berhenti di daerah yang namanya Ghadir Khum) untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wali/imam pengganti setelah Rasululloh wafat.
Ada kejanggalan, apabila memang terjadi sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menuntut kepada Abu Bakr? Begitu juga ribuan orang yang menghadiri Ghadir Khum tidak ada yang marah atau mengingatkan kepada Abu Bakr.
Bahkan sebagian shahabat yang tidak dikafirkan Syiah Imamiyyah juga tidak menuntut, seperti Ammar bin Yaasir atau al-Miqdaad bin 'Amr atau Salman al-Faarisi -semoga Alloh meridhai mereka-
Apakah karena mereka takut kepada Abu Bakr??? padahal Abu bakr berasal dari Bani Taim, kabilah yang lemah dan sedikit jumlahnya.
Ataukah karena memang kejadian Ghadir Khum tidak sebagaimana yang dipahami Syiah Imamiyyah???
Bukankah Imam Ali bin Abi Thalib orang yang kuat, pemberani, berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang terhormat lagi kuat????
Lihat foto ghadir khum di sini
Bingung bosss???
Imam Ali dan Imam al-Husain melarang perayaan Asyura!!!
Kebingungan ketujuh belas...
Sudah bukan rahasia lagi, pengikut Syiah Imamiyyah merayakan Asyura (terbunuhnya Imam al-Husain asy-Syahiid) pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
Diantara bentuk perayaan itu adalah dengan menyakiti badan, dengan benda tajam, atau dengan memukul pipi, memukul dada dan ada juga yang dengan berjalan diatas bara.
Yang bikin gumun bin heran, ternyata Imam Ali dan Imam al-Husain (yang dirayakan kesyahidannya) melarang hal itu. Masa... ??? Ga percaya...???
Kita lihat dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali berkata:
"Barangsiapa memukulkan tangannya ke pahanya ketika tertimpa musibah, maka sungguh terhapus amalnya"
Dalam kitab Muntahal Amaal berbahasa Persia yang diterjemahkan ke Bahasa Arab, al-Husain berkata kepada saudarinya, Zainab di Karbala:
"Wahai saudariku, bersumpahlah atas nama Alloh hendaknya engkau jaga sumpah ini, jika aku terbunuh, maka janganlah engkau merobek kerah bajumu, jangan mencakar wajahmu dengan kuku, janganlah engkau menyeru kebinasaan dan kehancura atas syahidnya diriku."
Tapi syiah hari ini...???
Bahkan di Indonesia sudah mulai melanggar larangan Imam mereka yang lebih utama untuk diikuti... dengan memukul-mukul dada... sambil membaca syair-syair tentang al-Husain asy-Syahiid!!!
Ajaran siapa yang mereka ikuti??? Apakah mereka mengikuti ajaran Ahlul Bayt???
Bingung inyong, priben kiye laah...!!!
Sudah bukan rahasia lagi, pengikut Syiah Imamiyyah merayakan Asyura (terbunuhnya Imam al-Husain asy-Syahiid) pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
Diantara bentuk perayaan itu adalah dengan menyakiti badan, dengan benda tajam, atau dengan memukul pipi, memukul dada dan ada juga yang dengan berjalan diatas bara.
Yang bikin gumun bin heran, ternyata Imam Ali dan Imam al-Husain (yang dirayakan kesyahidannya) melarang hal itu. Masa... ??? Ga percaya...???
Kita lihat dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali berkata:
"Barangsiapa memukulkan tangannya ke pahanya ketika tertimpa musibah, maka sungguh terhapus amalnya"
Dalam kitab Muntahal Amaal berbahasa Persia yang diterjemahkan ke Bahasa Arab, al-Husain berkata kepada saudarinya, Zainab di Karbala:
"Wahai saudariku, bersumpahlah atas nama Alloh hendaknya engkau jaga sumpah ini, jika aku terbunuh, maka janganlah engkau merobek kerah bajumu, jangan mencakar wajahmu dengan kuku, janganlah engkau menyeru kebinasaan dan kehancura atas syahidnya diriku."
Tapi syiah hari ini...???
Bahkan di Indonesia sudah mulai melanggar larangan Imam mereka yang lebih utama untuk diikuti... dengan memukul-mukul dada... sambil membaca syair-syair tentang al-Husain asy-Syahiid!!!
Ajaran siapa yang mereka ikuti??? Apakah mereka mengikuti ajaran Ahlul Bayt???
Bingung inyong, priben kiye laah...!!!
Para Imam Syiah mati bunuh diri???
Kebingungan ketigabelas...
Dalam kitab al-Kaafi karya al-Kulaini (kitab yang paling utama dan shahih bagi syiah imamiyyah, sebagaimana kedudukan shahih Bukhari bagi ahlis sunnah), disebutkan sifat para imam mereka:
"Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan bahwa mereka tidaklah mati kecuali dengan kehendak pilihan mereka sendiri." (Ushulul Kaafi: juz 1 halaman 258)
al-Kulaini juga menyebutkan:
"Mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada yag tersamar bagi imam sesuatupun" (Ushulul Kaafi: juz 1 halaman 260)
Kemudian dalam kitab rujukan utama yang lain, Biharul Anwar karya al-Majlisi menyebutkan hadits:
"Tidak ada seorang imam-pun kecuali mati dibunuh atau diracun." (Bihaarul Anwar: juz 43 halaman 364)
Jika para imam mengetahui perkara ghaib ("tidak tersamar bagi imam sesuatupun")niscaya mereka tahu ketika disuguhkan makanan dan minuman beracun, kalau mereka mengetahuinya dan tetap memakan atau meminum makanan dan minuman beracun tersebut, tentu saja itu adalah tindakan bunuh diri yang diharamkan syariat. Dan Nabi -shallallohu alaihi wa aalihi wasallama- menyatakan bahwa orang yang mati bunuh diri tempatnya di neraka.
Imam kok mati bunuh diri???
Imam ma'shum kok jadi ahli neraka???
Imam ma'shum (yang terjaga dari dosa, salah dan lupa) kok berbuat dosa besar???
Bingung too..??
Dalam kitab al-Kaafi karya al-Kulaini (kitab yang paling utama dan shahih bagi syiah imamiyyah, sebagaimana kedudukan shahih Bukhari bagi ahlis sunnah), disebutkan sifat para imam mereka:
"Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan bahwa mereka tidaklah mati kecuali dengan kehendak pilihan mereka sendiri." (Ushulul Kaafi: juz 1 halaman 258)
al-Kulaini juga menyebutkan:
"Mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada yag tersamar bagi imam sesuatupun" (Ushulul Kaafi: juz 1 halaman 260)
Kemudian dalam kitab rujukan utama yang lain, Biharul Anwar karya al-Majlisi menyebutkan hadits:
"Tidak ada seorang imam-pun kecuali mati dibunuh atau diracun." (Bihaarul Anwar: juz 43 halaman 364)
Jika para imam mengetahui perkara ghaib ("tidak tersamar bagi imam sesuatupun")niscaya mereka tahu ketika disuguhkan makanan dan minuman beracun, kalau mereka mengetahuinya dan tetap memakan atau meminum makanan dan minuman beracun tersebut, tentu saja itu adalah tindakan bunuh diri yang diharamkan syariat. Dan Nabi -shallallohu alaihi wa aalihi wasallama- menyatakan bahwa orang yang mati bunuh diri tempatnya di neraka.
Imam kok mati bunuh diri???
Imam ma'shum kok jadi ahli neraka???
Imam ma'shum (yang terjaga dari dosa, salah dan lupa) kok berbuat dosa besar???
Bingung too..??
Kamis, 30 Desember 2010
Mereka saling menyambung kekerabatan, Syiah memutusnya..! Tega beneer...!!!
Kebingungan keduabelas...
Kita semua tahu, bahwa para shahabat Nabi saling menyambung kekerabatan dengan Ahlul Bayt Nabi, Nabi pun menyambungnya. Dengan saling berbesan, menikahi dan menikahkan.
Nabi menikahi putri Abu Bakr, 'Aisyah.
Nabi menikahi putri Umar bin al-Khatthab, Hafshah
Nabi menikahkan kedua putri beliau (Ruqayyah dan Ummu Kulstuum) dengan Utsman bin Affan
Langkah beliau pun diikuti menantunya, Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya dengan Umar bin al-Khatthab.
Putra Utsman bin Affan menikah dengan cucu Ja'far bin Abi Thalib: Abaan bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsuum putri Abdillah bin Ja'far bin Abi Thalib
Kemudian paling tidak ada tiga cucu Utsman bin Affan menikah dengan cucu Ali bin Abi Thalib, yaitu:
1. Marwan bin Abaan bin Utsman bin Affan menikah dengan Ummul Qaasim putri al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib
2. Zaid bin 'Amru bin Utsman menikah dengan Sukainah putri al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.
3. Abdulloh bin 'Amru bin Utsman bin Affan menikah dengan Fathimah (ash-Shughra) putri al-Husain bin Ali bin Abi Thalib
Cukuplah perbesanan para khalifah sebagai bukti bahwa mereka saling mencintai. Shahabat yang lain juga saling menjalin perbesanan dengan ahlul bayt Nabi.
Sebagaimana kita, mereka juga memilihkan pasangan hidup, suami atau istri bagi putra-putrinya dengan orang yang mereka percayai dan yakini keshalihannya. Tidaklah mungkin kita menyerahkan putra-putri kita ke tangan musuh-musuh kita atau orang yang kafir, dzalim. Tentu kita kan dituduh sebagai orang tua yang kejam dan dzalim jika melakukannya.
Tapi mengapa Syiah Imamiyyah menuduh bahwa para shahabat Nabi bermusuhan dengan Ahlul Bayt??
Menuduh Shahabat Nabi telah murtad???
Siapa yag lebih memahami para shahabat Nabi??? Ahlul Bayt (yang menikahkan putrinya dengan shahabat Nabi) ataukah Syiah Imamiyyah???
Semakin ragu saja saya dengan Syiah Imamiyyah!!
Ahlul Bayt menyambung kekerabatan dengan perbesanan, Syiah Imamiyyah memutuskan kekerabatan itu dengan tuduhan permusuhan dan kekafiran.... bingung aku...??? sampeyan bingung juga????
Kita semua tahu, bahwa para shahabat Nabi saling menyambung kekerabatan dengan Ahlul Bayt Nabi, Nabi pun menyambungnya. Dengan saling berbesan, menikahi dan menikahkan.
Nabi menikahi putri Abu Bakr, 'Aisyah.
Nabi menikahi putri Umar bin al-Khatthab, Hafshah
Nabi menikahkan kedua putri beliau (Ruqayyah dan Ummu Kulstuum) dengan Utsman bin Affan
Langkah beliau pun diikuti menantunya, Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya dengan Umar bin al-Khatthab.
Putra Utsman bin Affan menikah dengan cucu Ja'far bin Abi Thalib: Abaan bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsuum putri Abdillah bin Ja'far bin Abi Thalib
Kemudian paling tidak ada tiga cucu Utsman bin Affan menikah dengan cucu Ali bin Abi Thalib, yaitu:
1. Marwan bin Abaan bin Utsman bin Affan menikah dengan Ummul Qaasim putri al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib
2. Zaid bin 'Amru bin Utsman menikah dengan Sukainah putri al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.
3. Abdulloh bin 'Amru bin Utsman bin Affan menikah dengan Fathimah (ash-Shughra) putri al-Husain bin Ali bin Abi Thalib
Cukuplah perbesanan para khalifah sebagai bukti bahwa mereka saling mencintai. Shahabat yang lain juga saling menjalin perbesanan dengan ahlul bayt Nabi.
Sebagaimana kita, mereka juga memilihkan pasangan hidup, suami atau istri bagi putra-putrinya dengan orang yang mereka percayai dan yakini keshalihannya. Tidaklah mungkin kita menyerahkan putra-putri kita ke tangan musuh-musuh kita atau orang yang kafir, dzalim. Tentu kita kan dituduh sebagai orang tua yang kejam dan dzalim jika melakukannya.
Tapi mengapa Syiah Imamiyyah menuduh bahwa para shahabat Nabi bermusuhan dengan Ahlul Bayt??
Menuduh Shahabat Nabi telah murtad???
Siapa yag lebih memahami para shahabat Nabi??? Ahlul Bayt (yang menikahkan putrinya dengan shahabat Nabi) ataukah Syiah Imamiyyah???
Semakin ragu saja saya dengan Syiah Imamiyyah!!
Ahlul Bayt menyambung kekerabatan dengan perbesanan, Syiah Imamiyyah memutuskan kekerabatan itu dengan tuduhan permusuhan dan kekafiran.... bingung aku...??? sampeyan bingung juga????
Label:
ahlul bayt,
bingung,
Imam Ali,
kedua belas,
kekerabatan,
pasangan hidup,
perbesanan,
ruqayyah,
sukainah,
ummu kultsuum,
ummul qaasim,
utsman bin affan
Imam Ali seorang yang lemah dan penakut? Ga.. mungkin deh!!
Kebingungan kesebelas...
Syiah Imamiyyah meyakini bahwa Fathimah az-Zahra -semoga Alloh meridhainya- telah dihinakan pada masa Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Alloh meridhainya- hingga patah tulang rusuk beliau, dan hendak dibakar rumahnya, bahkan hingga janin yang sedang dikandungnya gugur, mereka menyebutkan bahwa janin itu bernama Muhsin.
Pertanyaannya:
Kemana Imam Ali bin Abi Thalib? kok diam saja? tidak menuntut haknya? tidak melindungi istri dan putranya? tidak melindungi putri Rasululloh yang telah menjadi amanah baginya.!
Apakah Imam Ali bin Abi Thalib takut??
Apakah beliau lemah??
Apakah beliau seorang pengecut???
Tidak... demi Alloh tidak... !!!
Beliau kan yang mampu menjebol dan mengangkat pintu gerbang Khaibar sendirian.
Kalau begitu gimana nih ceritanya...???
Ceritanya bohong atau Imam Ali seorang pengecut, penakut dan lemah...???
Jadi bingung... ??????????
Kemudian ada pertanyaan lagi:
Janin belum lahir kok udah diberi nama ya??? Janin ga jadi lahir kok diberi nama ya??? Aneh ga siih???
Makin bingung dengan Syiah nih...
Syiah Imamiyyah meyakini bahwa Fathimah az-Zahra -semoga Alloh meridhainya- telah dihinakan pada masa Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Alloh meridhainya- hingga patah tulang rusuk beliau, dan hendak dibakar rumahnya, bahkan hingga janin yang sedang dikandungnya gugur, mereka menyebutkan bahwa janin itu bernama Muhsin.
Pertanyaannya:
Kemana Imam Ali bin Abi Thalib? kok diam saja? tidak menuntut haknya? tidak melindungi istri dan putranya? tidak melindungi putri Rasululloh yang telah menjadi amanah baginya.!
Apakah Imam Ali bin Abi Thalib takut??
Apakah beliau lemah??
Apakah beliau seorang pengecut???
Tidak... demi Alloh tidak... !!!
Beliau kan yang mampu menjebol dan mengangkat pintu gerbang Khaibar sendirian.
Kalau begitu gimana nih ceritanya...???
Ceritanya bohong atau Imam Ali seorang pengecut, penakut dan lemah...???
Jadi bingung... ??????????
Kemudian ada pertanyaan lagi:
Janin belum lahir kok udah diberi nama ya??? Janin ga jadi lahir kok diberi nama ya??? Aneh ga siih???
Makin bingung dengan Syiah nih...
Lho.. kok??? Imam Ali menolak ketetapan dari Alloh ta'ala???
Kebingungan kesepuluh...
Menurut Syiah Imamiyyah, Imamah (penunjukan Imam) adalah dari sisi Alloh ta'ala sebagaimana pernah saya baca dalam kitab rujukan mereka menyatakan: "al-Imaamatu manshibun Ilahiyyun" Imamah adalah ketetapan dari sisi Alloh.
Akan tetapi dalam kitab rujukan mereka yang lain, yang merupakan kitab rujukan yang diakui oleh mereka yaitu kitab Nahjul Balaghah, menyebutkan bahwa Imam Ali menolak imamah, piye too???
Imam Ali berkata ketika akan diangkat menjadi khalifah/imam: "Da'uuniy wal tamisuu ghairiy" (Tinggalkan aku, dan carilah selainku)
Padahal kan udah ditunjuk, kok ga mau ya???
Padahal udah ketetapan Ilahiy, kok nolak ya???
Kok malah menyetujui kekhalifahan Abu Bakr, Umar, Utsman -semoga Alloh meridhai mereka semua- ya???
Menolak perintah Alloh ta'ala, tetapi malah menyetujui dan membantu kekufuran, kedzaliman, kefasikan???
Kayaknya ga mungkin deh Imam Ali seperti itu, tapi di kitab rujukan mereka ada... bingung lagi.. bingung lagi dah... ?????
Menurut Syiah Imamiyyah, Imamah (penunjukan Imam) adalah dari sisi Alloh ta'ala sebagaimana pernah saya baca dalam kitab rujukan mereka menyatakan: "al-Imaamatu manshibun Ilahiyyun" Imamah adalah ketetapan dari sisi Alloh.
Akan tetapi dalam kitab rujukan mereka yang lain, yang merupakan kitab rujukan yang diakui oleh mereka yaitu kitab Nahjul Balaghah, menyebutkan bahwa Imam Ali menolak imamah, piye too???
Imam Ali berkata ketika akan diangkat menjadi khalifah/imam: "Da'uuniy wal tamisuu ghairiy" (Tinggalkan aku, dan carilah selainku)
Padahal kan udah ditunjuk, kok ga mau ya???
Padahal udah ketetapan Ilahiy, kok nolak ya???
Kok malah menyetujui kekhalifahan Abu Bakr, Umar, Utsman -semoga Alloh meridhai mereka semua- ya???
Menolak perintah Alloh ta'ala, tetapi malah menyetujui dan membantu kekufuran, kedzaliman, kefasikan???
Kayaknya ga mungkin deh Imam Ali seperti itu, tapi di kitab rujukan mereka ada... bingung lagi.. bingung lagi dah... ?????
Imam Ali bin Abi Thalib kok membantu kedzaliman? Na'udzubillah!
Kebingungan kedelapan...
Syiah Imamiyyah meyakini bahwa Abu Bakr dan Umar bin al-Khatthab telah kafir, dzalim, fasiq dan berbagai keburukan lainnya karena merampas kekhalifahan dari Imam Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi Imam Ali bin Abi Thalib (yang diklaim sebagai imam pertama syiah imamiyyah) berbaiat kepada keduanya, mengakui kekhalifahan keduanya, tidak memberontak kepada keduanya, taat kepada keduanya.
Kalau begitu, imam Ali bin Abi Thalib membantu mereka berdua dalam kedzaliman?? membantu mereka berdua dalam kekufuran?? membantu mereka berdua dalam kefasikan?? Padahal Imam Ali ma'shum (terjaga dari dosa, salah dan lupa).
Ataukah memang kedua khalifah terdahulu adalah orang yang benar, mu'min, shalih, amanah, sehingga Imam Ali bin Abi Thalib mengakui kekhalifahannya, berbaiat kepada keduanya, membantu keduanya???
Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khatthab safar ke Syam untuk menerima penyerahan kunci Baitul Maqdis, beliau menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib sebagai wakil di Madinah, menggantikan sementara posisi amirul mu'minin selama beberapa bulan. Mengapa Imam Ali bin Abi Thalib mau mewakili posisi orang yang dikafirkan Syiah Imamiyyah??? Berarti semakin jelas bantuan Imam Ali bin Abi Thalib kepada orang yang dikafirkan Syiah Imamiyyah!!!
Imam pertama dan utama berbuat seperti itu, bingung deh... bingung...
Ataukah karena kedua khalifah tersebut benar?? karena dibenarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib kan???
Kalau begitu sebaiknya Syiah Imamiyyah (yang mengklaim pengikut ahlul bayt) ikut Imam Ali bin Abi Thalib aja, mengakui kekhalifahan mereka berdua... mau??? bingung ya..???
Syiah Imamiyyah meyakini bahwa Abu Bakr dan Umar bin al-Khatthab telah kafir, dzalim, fasiq dan berbagai keburukan lainnya karena merampas kekhalifahan dari Imam Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi Imam Ali bin Abi Thalib (yang diklaim sebagai imam pertama syiah imamiyyah) berbaiat kepada keduanya, mengakui kekhalifahan keduanya, tidak memberontak kepada keduanya, taat kepada keduanya.
Kalau begitu, imam Ali bin Abi Thalib membantu mereka berdua dalam kedzaliman?? membantu mereka berdua dalam kekufuran?? membantu mereka berdua dalam kefasikan?? Padahal Imam Ali ma'shum (terjaga dari dosa, salah dan lupa).
Ataukah memang kedua khalifah terdahulu adalah orang yang benar, mu'min, shalih, amanah, sehingga Imam Ali bin Abi Thalib mengakui kekhalifahannya, berbaiat kepada keduanya, membantu keduanya???
Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khatthab safar ke Syam untuk menerima penyerahan kunci Baitul Maqdis, beliau menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib sebagai wakil di Madinah, menggantikan sementara posisi amirul mu'minin selama beberapa bulan. Mengapa Imam Ali bin Abi Thalib mau mewakili posisi orang yang dikafirkan Syiah Imamiyyah??? Berarti semakin jelas bantuan Imam Ali bin Abi Thalib kepada orang yang dikafirkan Syiah Imamiyyah!!!
Imam pertama dan utama berbuat seperti itu, bingung deh... bingung...
Ataukah karena kedua khalifah tersebut benar?? karena dibenarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib kan???
Kalau begitu sebaiknya Syiah Imamiyyah (yang mengklaim pengikut ahlul bayt) ikut Imam Ali bin Abi Thalib aja, mengakui kekhalifahan mereka berdua... mau??? bingung ya..???
Menantu Imam Ali bin Abi Thalib dikafirkan?
Kebingungan ketujuh...
Syiah imamiyyah meyakini bahwa Imam Ali adalah orang yang ma'shum (terjaga dari dosa, salah dan lupa -sebagaimana anggapan mereka-) sebagaimana imam-imam mereka yang lain.
Mereka juga meyakini bahwa Umar bin al-Khatthab telah murtad, kafir, dzhalim dan seluruh celaan tertuju padanya.
Akan tetapi Imam Ali bin Abi Thalib telah menikahkan puteri hasil pernikahannya dengan Fathimah az-Zahra yaitu Ummu Kultsuum (saudari kandung al-Hasan dan al-Husain) dengan Umar bin al-Khatthab.
Seorang ayah yang baik (apalagi ma'shum) tentunya akan memilihkan jodoh yang terbaik untuk putrinya, seorang ayah yang baik tentu akan menyerahkan putrinya kepada orang yang shalih.
Karena putrinya adalah kehormatannya, tentu hanya akan diserahkan kepada orang yang terhormat dimatanya.
Seorang ayah yang baik (apalagi ma'shum) tentu akan mempertahankan mati-matian kehormatannya, apalagi kehormatan putrinya.
Tentu kita tidak menghendaki putri kita diperistri Fir'aun, atau diperistri syaithan yang jelas-jelas kafir. Walaupun dipaksa, tentu kita akan mengorbankan nyawa kita untuk mempertahankan kehormatan putri kita sendiri.
Kalau begitu jadi bingung dengan orang syiah (yang katanya cinta ahlul bayt, pengikut ahlul bayt) mengapa mereka mencela, mengkafirkan menantu Imam pertama mereka sendiri??
Mengapa mereka mencela dan mengkafirkan orang yang dipercaya untuk menjaga kehormatan Imamnya????
Mengapa mereka mencela dan mengkafirkan menantu pilihan imamnya sendiri????
Mengapa ?? Mengapa ?? Mengapa ??? Bingung lagi... bingung lagi...
Syiah imamiyyah meyakini bahwa Imam Ali adalah orang yang ma'shum (terjaga dari dosa, salah dan lupa -sebagaimana anggapan mereka-) sebagaimana imam-imam mereka yang lain.
Mereka juga meyakini bahwa Umar bin al-Khatthab telah murtad, kafir, dzhalim dan seluruh celaan tertuju padanya.
Akan tetapi Imam Ali bin Abi Thalib telah menikahkan puteri hasil pernikahannya dengan Fathimah az-Zahra yaitu Ummu Kultsuum (saudari kandung al-Hasan dan al-Husain) dengan Umar bin al-Khatthab.
Seorang ayah yang baik (apalagi ma'shum) tentunya akan memilihkan jodoh yang terbaik untuk putrinya, seorang ayah yang baik tentu akan menyerahkan putrinya kepada orang yang shalih.
Karena putrinya adalah kehormatannya, tentu hanya akan diserahkan kepada orang yang terhormat dimatanya.
Seorang ayah yang baik (apalagi ma'shum) tentu akan mempertahankan mati-matian kehormatannya, apalagi kehormatan putrinya.
Tentu kita tidak menghendaki putri kita diperistri Fir'aun, atau diperistri syaithan yang jelas-jelas kafir. Walaupun dipaksa, tentu kita akan mengorbankan nyawa kita untuk mempertahankan kehormatan putri kita sendiri.
Kalau begitu jadi bingung dengan orang syiah (yang katanya cinta ahlul bayt, pengikut ahlul bayt) mengapa mereka mencela, mengkafirkan menantu Imam pertama mereka sendiri??
Mengapa mereka mencela dan mengkafirkan orang yang dipercaya untuk menjaga kehormatan Imamnya????
Mengapa mereka mencela dan mengkafirkan menantu pilihan imamnya sendiri????
Mengapa ?? Mengapa ?? Mengapa ??? Bingung lagi... bingung lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)





