Kebingungan keduapuluh...
Penghambaan hanyalah ditujukan kepada Alloh ta'ala semata, sebagaimana firman Alloh dalam surat Az-Zumar ayat 66:
"Karena itu, maka hendaklah Alloh saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."
Akan tetapi banyak sekali orang Syiah Imamiyyah yang menghambakan namanya untuk selain Alloh, bukan hanya orang awamnya, ulamanya juga sama.
Diantaranya nama: Abdul Husain, Abdu Ali, Abduz Zahra, Abdul Imam, Abdun Nabi dan lain sebagainya.
Dan kita tidak menemukan Imam-Imam mereka yang dua belas memberi nama anak-anaknya dengan nama demikian.
Apakah tepat kalau diselewengkan maknanya menjadi pembantu???
Bagaimana bisa menjadi pembantu orang yang telah wafat dan telah dikuburkan??? Apakah mereka menyiapkan makan minum bagi orang yang telah dikubur???
Jelas ini menyelisihi tauhid ubudiyyah yang sangat besar dosanya...!!!
Tapi Ulama mereka ada yang bernama Abdul Husain Musawi, pengarang buku yang menghujat Abu Hurairah -semoga Alloh meridhai Abu Hurairah-
Bingung dull...???
Mau jadi syiah, bingung dulu... Udah jadi syiah, tambah bingung... Piye to yaaa...????????????????
Jumat, 31 Desember 2010
Ghadir Khum???
Kebingungan kesembilan belas...
Kisah Ghadir Khum memang terjadi, yang intinya adalah mengingatkan kepada ummat ini agar mencintai Ali bin Abi Thalib dan melindunginya.
Akan tetapi Syiah Imamiyyah memahaminya dengan pemahaman yang jauh berbeda, mereka menyatakan bahwa kisah Ghadir Khum adalah washiyat Nabi kepada ribuan shahabatnya (yang bersama beliau pulang dari haji wada' kemudian berhenti di daerah yang namanya Ghadir Khum) untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wali/imam pengganti setelah Rasululloh wafat.
Ada kejanggalan, apabila memang terjadi sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menuntut kepada Abu Bakr? Begitu juga ribuan orang yang menghadiri Ghadir Khum tidak ada yang marah atau mengingatkan kepada Abu Bakr.
Bahkan sebagian shahabat yang tidak dikafirkan Syiah Imamiyyah juga tidak menuntut, seperti Ammar bin Yaasir atau al-Miqdaad bin 'Amr atau Salman al-Faarisi -semoga Alloh meridhai mereka-
Apakah karena mereka takut kepada Abu Bakr??? padahal Abu bakr berasal dari Bani Taim, kabilah yang lemah dan sedikit jumlahnya.
Ataukah karena memang kejadian Ghadir Khum tidak sebagaimana yang dipahami Syiah Imamiyyah???
Bukankah Imam Ali bin Abi Thalib orang yang kuat, pemberani, berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang terhormat lagi kuat????
Lihat foto ghadir khum di sini
Bingung bosss???
Kisah Ghadir Khum memang terjadi, yang intinya adalah mengingatkan kepada ummat ini agar mencintai Ali bin Abi Thalib dan melindunginya.
Akan tetapi Syiah Imamiyyah memahaminya dengan pemahaman yang jauh berbeda, mereka menyatakan bahwa kisah Ghadir Khum adalah washiyat Nabi kepada ribuan shahabatnya (yang bersama beliau pulang dari haji wada' kemudian berhenti di daerah yang namanya Ghadir Khum) untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wali/imam pengganti setelah Rasululloh wafat.
Ada kejanggalan, apabila memang terjadi sebagaimana pemahaman Syiah Imamiyyah, mengapa Ali bin Abi Thalib tidak menuntut kepada Abu Bakr? Begitu juga ribuan orang yang menghadiri Ghadir Khum tidak ada yang marah atau mengingatkan kepada Abu Bakr.
Bahkan sebagian shahabat yang tidak dikafirkan Syiah Imamiyyah juga tidak menuntut, seperti Ammar bin Yaasir atau al-Miqdaad bin 'Amr atau Salman al-Faarisi -semoga Alloh meridhai mereka-
Apakah karena mereka takut kepada Abu Bakr??? padahal Abu bakr berasal dari Bani Taim, kabilah yang lemah dan sedikit jumlahnya.
Ataukah karena memang kejadian Ghadir Khum tidak sebagaimana yang dipahami Syiah Imamiyyah???
Bukankah Imam Ali bin Abi Thalib orang yang kuat, pemberani, berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang terhormat lagi kuat????
Lihat foto ghadir khum di sini
Bingung bosss???
Subhaanallooh !!! Ulama Syiah Imamiyyah kok biasa meniru Fir'aun???
Kebingungan kedelapan belas...
Kalau kita ditanya pak guru, "Anak-anak, pakaian warna apa yang biasa dipakai ulama Syiah Imamiyyah Iraniyyah?"
Niscaya kita menjawab secara aklamasi, "warna hitaaam.. pak guruuu!!!"
Iya kan? warna hitam adalah warna identik pakaian, jubah dan udeng alias ikat kepala yang besar orang-orang Syiah Imamiyyah, bahkan ulamanya juga sangat suka memakainya.
Apalagi ketika perayaan Asyura tanggal 10 Muharram, lebih banyak lagi yang berpakaian hitam.
Siapakah yang menganjurkannya???
Apakah Ahlul Bayt yang mencontohkannya???
Ataukah imam mereka yang mewajibkannya???
Atau siapa???
Kalau inyong kasih tahu satu hadits dari imam mereka, sampeyan jangan kaget plus gumun atau bingung ya...!!?
Abu Ja'far Muhammad bin Bawaih al-Qummi menukil dalam kitab Man Laa Yahdhuuruhu al-Faqiih: halaman 51, bahwa Amirul Mu'minin (Imam Ali bin Abi Thalib -semoga Alloh meridhainya-) berkata, sebagaimana yang diketahui oleh para shahabatnya:
Laa talbasuu sawaadan, fainnahu libaasu Fir'auna.
"Janganlah kalian berpakaian hitam, maka sesungguhnya itu adalah pakaian Fir'aun"!!!
Haaa..h..!!! Masa...???
Apakah ulama Syiah Imamiyyah ga baca hadits ini???
Ataukah mereka mengikuti selain Imam mereka????
Apakah mereka meninggalkan ajaran Ahlul Bayt Nabi???
Kok jadi bingung gini yaaa...!!!
Bingung lagi kaan???
Kalau kita ditanya pak guru, "Anak-anak, pakaian warna apa yang biasa dipakai ulama Syiah Imamiyyah Iraniyyah?"
Niscaya kita menjawab secara aklamasi, "warna hitaaam.. pak guruuu!!!"
Iya kan? warna hitam adalah warna identik pakaian, jubah dan udeng alias ikat kepala yang besar orang-orang Syiah Imamiyyah, bahkan ulamanya juga sangat suka memakainya.
Apalagi ketika perayaan Asyura tanggal 10 Muharram, lebih banyak lagi yang berpakaian hitam.
Siapakah yang menganjurkannya???
Apakah Ahlul Bayt yang mencontohkannya???
Ataukah imam mereka yang mewajibkannya???
Atau siapa???
Kalau inyong kasih tahu satu hadits dari imam mereka, sampeyan jangan kaget plus gumun atau bingung ya...!!?
Abu Ja'far Muhammad bin Bawaih al-Qummi menukil dalam kitab Man Laa Yahdhuuruhu al-Faqiih: halaman 51, bahwa Amirul Mu'minin (Imam Ali bin Abi Thalib -semoga Alloh meridhainya-) berkata, sebagaimana yang diketahui oleh para shahabatnya:
Laa talbasuu sawaadan, fainnahu libaasu Fir'auna.
"Janganlah kalian berpakaian hitam, maka sesungguhnya itu adalah pakaian Fir'aun"!!!
Haaa..h..!!! Masa...???
Apakah ulama Syiah Imamiyyah ga baca hadits ini???
Ataukah mereka mengikuti selain Imam mereka????
Apakah mereka meninggalkan ajaran Ahlul Bayt Nabi???
Kok jadi bingung gini yaaa...!!!
Bingung lagi kaan???
Yang mau download silsilah keturunan Ahlul Bayt dan Shahabah
Di sini akan sampeyan temukan beberapa nama keturunan Ahlul Bayt yang akan membuka wawasan. Kalau dilihat dibagian bawahnya (footnote) rujukan dari kitab-kitab Syiah sendiri.
Silahkan download di sini.
Imam Ali dan Imam al-Husain melarang perayaan Asyura!!!
Kebingungan ketujuh belas...
Sudah bukan rahasia lagi, pengikut Syiah Imamiyyah merayakan Asyura (terbunuhnya Imam al-Husain asy-Syahiid) pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
Diantara bentuk perayaan itu adalah dengan menyakiti badan, dengan benda tajam, atau dengan memukul pipi, memukul dada dan ada juga yang dengan berjalan diatas bara.
Yang bikin gumun bin heran, ternyata Imam Ali dan Imam al-Husain (yang dirayakan kesyahidannya) melarang hal itu. Masa... ??? Ga percaya...???
Kita lihat dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali berkata:
"Barangsiapa memukulkan tangannya ke pahanya ketika tertimpa musibah, maka sungguh terhapus amalnya"
Dalam kitab Muntahal Amaal berbahasa Persia yang diterjemahkan ke Bahasa Arab, al-Husain berkata kepada saudarinya, Zainab di Karbala:
"Wahai saudariku, bersumpahlah atas nama Alloh hendaknya engkau jaga sumpah ini, jika aku terbunuh, maka janganlah engkau merobek kerah bajumu, jangan mencakar wajahmu dengan kuku, janganlah engkau menyeru kebinasaan dan kehancura atas syahidnya diriku."
Tapi syiah hari ini...???
Bahkan di Indonesia sudah mulai melanggar larangan Imam mereka yang lebih utama untuk diikuti... dengan memukul-mukul dada... sambil membaca syair-syair tentang al-Husain asy-Syahiid!!!
Ajaran siapa yang mereka ikuti??? Apakah mereka mengikuti ajaran Ahlul Bayt???
Bingung inyong, priben kiye laah...!!!
Sudah bukan rahasia lagi, pengikut Syiah Imamiyyah merayakan Asyura (terbunuhnya Imam al-Husain asy-Syahiid) pada tanggal 10 Muharram setiap tahunnya.
Diantara bentuk perayaan itu adalah dengan menyakiti badan, dengan benda tajam, atau dengan memukul pipi, memukul dada dan ada juga yang dengan berjalan diatas bara.
Yang bikin gumun bin heran, ternyata Imam Ali dan Imam al-Husain (yang dirayakan kesyahidannya) melarang hal itu. Masa... ??? Ga percaya...???
Kita lihat dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali berkata:
"Barangsiapa memukulkan tangannya ke pahanya ketika tertimpa musibah, maka sungguh terhapus amalnya"
Dalam kitab Muntahal Amaal berbahasa Persia yang diterjemahkan ke Bahasa Arab, al-Husain berkata kepada saudarinya, Zainab di Karbala:
"Wahai saudariku, bersumpahlah atas nama Alloh hendaknya engkau jaga sumpah ini, jika aku terbunuh, maka janganlah engkau merobek kerah bajumu, jangan mencakar wajahmu dengan kuku, janganlah engkau menyeru kebinasaan dan kehancura atas syahidnya diriku."
Tapi syiah hari ini...???
Bahkan di Indonesia sudah mulai melanggar larangan Imam mereka yang lebih utama untuk diikuti... dengan memukul-mukul dada... sambil membaca syair-syair tentang al-Husain asy-Syahiid!!!
Ajaran siapa yang mereka ikuti??? Apakah mereka mengikuti ajaran Ahlul Bayt???
Bingung inyong, priben kiye laah...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)





